09.26.08
Semua ada saatnya…
Selamat kepada rekan-rekan yang telah menjalani Sidang Program Sarjana periode wisuda Oktober 2008 !!!
Barakallah, selamat menempuh kehidupan selanjutnya !
Menjadi batu bata yang lain dalam bangunan peradaban…
Teh Ninda (TL 2003) dan Teh Puput (TL 2003)
Dag dig dug banget waktu nungguin teteh-teteh seperjuanganku ini sidang di Ruang Harun, Lt 2 Gedung TL Lama, di hari yang berbeda. . Alhamdulillah, setelah melewati kurang dari 2 jam sidang, mereka dinyatakan lulus. Barakallah ukhtiy! Aku tahu, kalian sudah menunggu lama untuk ini…
Gilang Widyawisaksana HP (GD 2004)
Sodara tiri yang satu ini mendahului rekan-rekan sependeritaannya yang lain. Satu nasihat Gilang yang saya ingat satu hari setelah dia seminar, “Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah pasti akan menolongnya”.
Hmm… terimakasih sudah menginternalisasikan kembali ayat-ayat itu bro’!
Alfian Nur Mahendra (FT 2004)
Nah, si Alfi (Ketua Tim Promotor Bolang) ini emang udah bisa lulus dari bulan Juli kemarin. Tapi gara-gara ikut pemilihan Mahasiswa Berprestasi, lulusnya jadi diundur. Barakallah ya Fi! Cepet-cepet selesein S2 dan S3 nya! Biar jadi ADKP (apaan itu?!). Tapi katanya sih mau balik ke Blora.
Diah Ajeng Setiawati, Novi Nuryani, Elgia Melissa Kirana, dan semua teman-teman TL 2004 ku tersayang yang jumlahnya 36 orang.
Jumlah anak TL 2004 yang belum lulus berjumlah 66 orang… Smangat !!
Jadi ingat masa-masa 4 tahun-an yang lalu, hari pertama kuliah di GKU Barat Ruang 9133 (kuliah Kimia Dasar 1 A) sampai pada hari kuliah terakhir bulan Mei 2008 lalu (kuliah Pengelolaan Limbah Industri, tapi aku merelakan tidak bersama kalian di hari itu karena berangkat Aksi Menolak Pornografi dan Pornoaksi ke Jakarta…Padahal habis kuliah terakhir dengan menggunakan Dress Code Baju Pantai, langsung foto angkatan T_T)
Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing…
Ingatlah hari ini…
Ikhwan dan Akhwat 2004 lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Beberapa yang saya ingat : Yani Handayani FA 2004, Endah FA 2004, Tita Salafiyah FA 2004, Kartika Akbaria TI 2004, Jami TI 2004, Ilham Fathoni IF 2004, Aa Pian Nopiana TG 2004, Adek Satim TM 2004, dll
Sobat Bolang angkatan 2004 yang belum lulus:
Cegi dan Pipi yang entah dari jaman kapan udah mulai ngerjain TA. Cegi yang data TAnya diulang dan Pipi yang bakterinya udah pada jenggotan. Asalnya mau lulus Juli 2008, diundur jadi Oktober 2008. Pipi yang lagi mengusahakan bisa Maret 2009, dan Cegi yang lagi sakit dari Bulan Agustus dan masih terbaring di Rumah Sakit, jadi harus diundur lagi 1 semester. Jadi kita barengan Bulan Juli 2009 Ceg?
Nisa, Kyky, dan Essa. Anak2 SITH yang juga kemungkinan besar lulus Maret 2009. Nisa yang ngerjain TA proyekan dosen sejak awal semester 8, Kyky yang akan segera mengamati Rusa di Pangandaran, dan Essa yang kemarin rajin beli zat kimia di Lab TL untuk TAnya.
Army yang katanya target lulusnya dimajuin dari Juli 2009 jadi Maret 2009, tapi tanda-tandanya sih masih lama lulusnya. Peace my !!! Sibuk memulai bisnis dulu nampaknya.
Bobby yang sedang mem-BoShan. Kalau ngikut aturan sih nemenin Bu Press sampai LPJ, kalau gitu berarti lulusnya Juli 2009 dong.
Radit yang katanya lulus Juli 2009 juga gara-gara ngulang KP dan ganti topik TA.
Aji, katanya mau lulus Maret 2009 juga.
Jarwo, bos tim Kampanye Langsungya Bolang. Mau lulus kapan wo?
Adis yang TAnya baru mulai dan topik TAnya hampir mirip dengan topik TAku. Mau lulus Maret 2009 katanya. Smangat Dis!
Erqurani alias Ani BI berencana lulus Juli 2009. Ayo ukht, semangat ! Kan tanggal 09 bulan 09 tahun 09, dirimu sudah ada rencana besar ^_-
Febi yang pingin lulus Maret 2009 juga. Gimana ukht, jadi? Barengan kita aja deh lulusnya ^_~
Dhian yang sudah lama tak berbincang-bincang dari hati ke hati. Kalau engga salah, rencananya lulus Juli 2009 ya?! Amien.
Kiki Djangko ku sayang. Dulu kita pernah janji lulus bareng, bisnis bareng, dan S2 bareng… Kiki ngga jadi lulus Maret . Jadinya lulus Juli 2009.
Aku ?! InsyaAllah ikut wisuda periode Juli 2009 (nyantei Ki, aku engga akan ninggalin Kiki deh ^_^) Bukannya apa-apa, TAnya belum sempet dikerjain juga sampai sekarang. Peace !!!
09.15.08
Kata di Jalan Cinta!
Satu kata cinta Bilal :
“Ahad!”
Dua kata cinta Sang Nabi :
“Selimuti aku..!”
Tiga kata cinta Ummu Sulaim :
“Islammu, itulah maharku!”
Empat kata cinta Abu Bakar :
“Ya Rasulullah, saya percaya..!”
Lima kata cinta Umar :
“Ya Rasulullah, ijinkan kupenggal lehernya!”
Hmm… Setiap pengukir sejarah memiliki caranya sendiri dalam mengekspresikan cinta. Begitu pun dengan orang-orang disekeliling kita atau mungkin juga dengan diri kita sendiri!
Bagaimana mencintai umat? Bagaimana mencintai bangsa dan tanah air? Bagaimana mencintai orang tua dan saudara? Atau mungkin, bagaimana mencintai orang terkasih? Semua dalam rangka mencintai Rabbnya.
(Inspirasi dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah)
09.09.08
Lahir Bersama Masalah
Kita lahir dan bersama kelahiran itu telah ada daftar masalah. Sebab hidup pada dasarnya adalah masalah itu sendiri. Kita tumbuh dan segalapertumbuhan psikologis, biologis, dan fisik kita senantiasa diiringi oleh masalah. Mulanya kita tak mengerti baik dan buruk, lalu tarikan kebaikan menebarkan rasa tentramnya, maka hati nurani kita mulai cita pada kebaikan. Tapi kita juga belajar bahwa memilih kebaikan selalu punya ongkos kelelahannya. Seiring dengan itu, tarikan keburukan juga datang menggoda…
Yang sedang merasakan bahwa hidup ini adalah masalah yang tak berujung, silakan baca selengkapnya tulisan yang mencerahkan ini di majalah Tarbawi edisi 186.
09.04.08
(?!!)
Padang ilalang yang luas itu terhampar di sisi sebelah Timur dan Selatan mushola sebuah fakultas di kampus ini. Di ujung mata, garis horison yang tidak tegas memisahkan antara langit biru dan padang ilalang. Sunyi… Sepi… Kalau saja pengunjung mushola tidak bersuara cukup lantang, di tempatku duduk ini tidak akan terdengar suara apapun. Jalan raya dan lahan parkir fakultas pun berada cukup jauh dari sini sehingga tidak terdengar suara kendaraan bermotor. Sejenak kubayangkan tentang masa depanku di kampus ini sambil melepaskan pandangan ke arah padang ilalang itu. Masa depan yang sunyi, jauh dari keramaian. Sore menjelang. Saat bola keemasan hampir menyentuh batas horison danau, kembali kutemukan mimpi itu. Mimpi yang pernah tertunda dan akan segera aku raih!
Anni yang waktu itu lagi di UI
Menikmati Demokrasi
Kembali membaca tulisan lama…
Menikmati Demokrasi
(Anis Matta)
Setiap individu dalam masyarakat demokrasi sama dengan individu yang lain. Semua sama-sama bebas dalam berpikir, berekspresi, bertindak, dan memilih jalan hidup. Tidak boleh ada rasa takut, tidak boleh ada tekanan, terutama dari militer. Tidak boleh. Kebebasan hanya dibatasi oleh kebebasan yang sama.
Fungsi negara hanyalah memfasilitasi untuk hidup bersama secara damai. Negara bertugas melindungi setiap individu dan setiap entitas untuk hidup dengan cara mereka. Dasar yang digunakan negara dalam bekerja adalah kesepakatan bersama antarwarga negara, sesuatu yang kemudian kita sebut dengan konstitusi, undang-undang atau hukum.
Padanan demokrasi dalam ekonomi adalah tuntutan pasar bebas. Di sini harus ada jaminan kebebasan bagi lalu lintas barang, jasa, dan manusia (sebagai apapun, termasuk sebagai tenaga kerja), tanpa batas teroterial, regulasi, atau nilai. Semua pergerakan itu semata-mata tunduk pada hukum supply and demand. Semua bentuk barang atau jasa harus bisa diperdagangkan, selama ada permintaan pasar.
Maka, semua orang menikmati demokrasi. Para kapitalis menikmati demokrasi karena inilah payung politik yang ke semua sudut pasar potensial. Para buruh juga menikmati demokrasi karenai inilah payung politik yang memberikan perlindungan hak-hak dan kebeasan bekerja. Kelompok minoritas dalam semua bentuknya, termasuk minoritas nilai (atau yang secara kasar kita sebut menyimpang), juga menikmati demokrasi karena hak hidup mereka terlindungi di sini.
Dakwah juga menikmati demokrasi karena di sini para da’i menemukan kebebasan untuk bertemu dan berinteraksi secara terbuka dan langsung dengan semua objek dakwah. Otoritariarisme dan kediktatoran membut dakwah tidak bisa bernafas lega. Di sana tidak ada tempat bagi ekspresi yang lepas.
Tapi keikmatan ini ada harganya. Terutama bagi dakwah. Kita memang bebas berdakwah, tapi para pelaku kemungkaran juga bebas melakukan kemungkaran. Yang berlaku di sini bukan hukum benar-salah, tapi hukum legalitas. Sesuatu itu harus legal, walaupun salah. Dan sesuatu yang benar tapi tidak legal adalah salah. Begitulah aturan main demokrasi. Karena itu, masyarakat demokrasi cenderung bersifat eufimistis, longgar, dan tidak mengikat.
Yang kemudian harus kita lakukan adalah bagaimana mengintegrasikan kebenaran dengan legalitas. Bagaimana membuat sesuatu yang salah dalam pandangan agama menjadi tidak legal dalam pandangan hukum positif. Secara terbalik, itu pulalah yang dilakukan para pelaku kejahatan. Para mafia narkoba harus mencuci uangnya agar bisa menjadi hak milik yang legal.
Maka, penetrasi kekuasaan dalam negara demokrasi harus dilakukan degan urutan-urutan begini. Pertama, menangkanlah wacana publik agar opini publik berpihak kepada kita. Inilah kemenangan pertama yang mengawali kemenangan-kemenangan selanjutnya. Kedua, formulasikan wacana itu ke dalam draft hukum untuk dimenangkan dalam wacana legislasi melalui lembaga legislatif. Kemenangan legislasi ini menjadi legitimasi bagi negara untuk mengeksekusinya. Ketiga, astikan bahwa para eksekutif pemerintah melaksanakan dan menerapkan hukum tersebut.
Jadi, itulah tiga pusat kekuasaan dalam negara demokrasi : wacana publik, legislasi, dan eksekusi. Pengadilan itu lembaga netral. Signifikan tapi tidak menetukan proses pembentukan struktur kehidupan masyarakat.
Demikianlah dakwah harus bekerja di era demokrasi Ada kebebasan yang kita nikmati bersama. Tapi, juga tersedia ”cara tersendiri” untuk mematikan kemungkaran dan melakukan penetrasi kekuasaan. Anggaplah ini sebuah seni yang harus dikuasai para politisi dakwah.
