Iman yang Gelisah

Published Desember 1, 2011 by Anni Marliansyah

Di padang Badar yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh aqidah. Dan mereka tahu inilah furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebatilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.

“Ya Allah,” lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya,  dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.

Dan Abu Bakar, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun. “Sudahlah Ya Rasulullah,” bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janji-Nya padamu!”

“Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan aneka ujian sampai-sampai berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datang pertolongan Allah?’” (Q.s. Al-Baqarah : 214)

 

(Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A.Fillah)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.